MEDAN, TOPKOTA.co – Sebelum jalan raya dipenuhi bus-bus modern dengan mesin belakang, pendingin udara, kursi empuk dan berbagai fasilitas kenyamanan, masyarakat Sumatera Utara mengenal angkutan umum dengan wajah yang jauh berbeda.
Salah satu nama yang pernah menjadi bagian penting dari sejarah transportasi darat di wilayah Asahan dan Labuhanbatu adalah Perusahaan Otobus (PO) Maslab.
Maslab merupakan singkatan dari Masyarakat Asahan Labuhanbatu, sebuah perusahaan otobus yang dahulu melayani trayek Tanjungbalai–Rantauprapat–Negeri Lama pulang-pergi.
Pada masa kejayaannya sekitar dekade 1960-an hingga 1980-an, Maslab bukan sekadar kendaraan pengangkut penumpang. Keberadaannya menjadi salah satu urat nadi transportasi masyarakat yang menghubungkan sejumlah wilayah di Kabupaten Asahan, Labuhanbatu dan Kota Tanjungbalai.
Bagi masyarakat yang hidup pada masa itu, nama Maslab begitu akrab. Bus tersebut menjadi sarana bagi para pedagang membawa hasil bumi, masyarakat bepergian antarkota, anak-anak muda menempuh pendidikan, hingga para perantau yang hendak mencari kehidupan lebih baik.
Di tengah keterbatasan infrastruktur transportasi pada masa itu, kehadiran Maslab menjadi bagian penting dalam membuka akses masyarakat dari satu daerah ke daerah lainnya.
Menguasai Jalur Lintas Timur Sumatera Utara
Pada era 1960-an hingga 1980-an, kondisi transportasi darat di Sumatera Utara belum semaju sekarang. Jalan-jalan antarkabupaten masih banyak yang belum mulus. Waktu tempuh perjalanan pun relatif panjang dan sangat bergantung pada kondisi jalan serta cuaca.
Dalam situasi tersebut, PO Maslab justru tumbuh menjadi salah satu angkutan umum yang memiliki basis penumpang cukup kuat.
Jalur Tanjungbalai–Rantauprapat–Negeri Lama menjadi salah satu lintasan penting yang dilayani Maslab. Bus ini bahkan dikenal sebagai salah satu penguasa jalur lintas timur Sumatera Utara untuk angkutan penumpang reguler pada zamannya.
Terminal dan loket Maslab di pusat Kota Rantauprapat maupun Tanjungbalai hampir selalu dipenuhi aktivitas.
Penumpang datang silih berganti. Pedagang membawa hasil bumi, masyarakat membawa barang bawaan, sementara para perantau menunggu keberangkatan menuju kampung halaman maupun daerah tujuan.
Suasana terminal pada masa itu tentu berbeda dengan terminal modern sekarang. Tidak ada ruang tunggu berpendingin udara, sistem tiket digital maupun informasi keberangkatan melalui aplikasi.
Bus Ekonomi dengan Cerita yang Tak Terlupakan
Armada Maslab juga memiliki karakteristik tersendiri yang masih melekat dalam ingatan generasi tua Sumatera Utara.
Bus-bus yang digunakan pada masa itu antara lain menggunakan sasis truk maupun bus bermesin depan dengan merek-merek yang populer pada zamannya, seperti Chevrolet, Dodge dan Mercedes-Benz tipe lama.
Bodinya sebagian besar dibuat oleh karoseri lokal. Konstruksi bus menggunakan kombinasi rangka kayu dan pelat besi yang dikenal kokoh untuk menghadapi kondisi jalan kabupaten maupun jalan lintas Sumatera yang belum sebaik sekarang.
Maslab merupakan angkutan umum kelas ekonomi. Kala itu istilah bus AC belum menjadi bagian dari kehidupan transportasi masyarakat.
Jendela bus dapat dibuka lebar untuk mendapatkan sirkulasi udara. Suasana perjalanan pun sangat berbeda dengan bus masa kini.
Sopir, kernet, kondektur atau cincu, bahkan sebagian penumpang, terkadang sama-sama menikmati rokok selama perjalanan.
Asap rokok menjadi bagian dari atmosfer perjalanan bus antarkota pada masa itu.
Bagian atap bus juga memiliki fungsi penting. Barang-barang berukuran besar milik penumpang sering diletakkan di atas atap, mulai dari keranjang hasil bumi, paket, barang dagangan hingga sepeda.
Kondektur harus cekatan naik ke atas bus untuk menaikkan maupun menurunkan barang penumpang.
Pemandangan seperti itu kini hampir tidak ditemukan lagi dalam transportasi umum modern.
Terminal, Preman dan Dinamika Zaman
Kehidupan terminal pada masa kejayaan bus-bus lama juga memiliki cerita tersendiri.
Terminal tidak hanya menjadi tempat keberangkatan dan kedatangan bus, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai lapisan masyarakat.
Di sejumlah wilayah, atmosfer terminal pada masa itu dikenal keras. Kehadiran kelompok-kelompok yang menguasai kawasan terminal atau yang kerap disebut sebagai preman lokal menjadi bagian dari dinamika kehidupan transportasi kala itu.
Namun dalam kondisi tertentu, keberadaan mereka juga dianggap ikut menjaga keteraturan aktivitas transportasi dan keamanan lingkungan terminal.
Sebuah gambaran zaman yang mungkin sulit dipahami oleh generasi sekarang, tetapi menjadi bagian dari realitas kehidupan transportasi Sumatera Utara pada masa lalu.
Maslab dan Perjuangan Masyarakat
Bagi masyarakat Asahan dan Labuhanbatu yang melewati masa muda pada dekade 1970-an dan 1980-an, Maslab bukan hanya sebuah nama perusahaan otobus. Maslab menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Bus tersebut mengantarkan anak-anak muda dari kampung menuju Tanjungbalai atau Rantauprapat untuk melanjutkan pendidikan.
Bus yang sama pula membawa para pedagang hasil bumi menuju pasar, mengantarkan masyarakat mengunjungi keluarga, serta menjadi kendaraan bagi para perantau yang pulang ke kampung halaman.
Perjalanan yang mungkin dahulu dianggap biasa, kini justru berubah menjadi kenangan berharga.
Suara mesin bus, derit bodi, pintu yang dibuka-tutup, teriakan kernet mencari penumpang, hingga barang-barang yang bertumpuk di atas atap menjadi bagian dari memori kolektif generasi yang pernah merasakan masa tersebut.
Modernisasi Mengakhiri Masa Kejayaan
Memasuki era 1990-an, wajah transportasi Sumatera Utara mulai berubah. Sejumlah perusahaan otobus baru bermunculan dengan armada yang lebih modern. Bus-bus dengan mesin belakang, sistem suspensi lebih nyaman, pendingin udara dan berbagai fasilitas lainnya mulai menjadi pilihan masyarakat.
Jalur-jalur transportasi baru juga berkembang. Perubahan tersebut secara perlahan menggerus eksistensi bus ekonomi atau yang pada masa itu sering disebut Bumel (bus umum ekonomi).
Persaingan semakin ketat. Masyarakat mulai memiliki lebih banyak pilihan moda transportasi dengan tingkat kenyamanan yang semakin baik. PO Maslab pun akhirnya berhenti beroperasi.
Namun, berhentinya operasi bus tersebut tidak serta-merta menghapus namanya dari ingatan masyarakat.
Maslab tetap meninggalkan jejak dalam sejarah transportasi darat Sumatera Utara.
Bukan Sekadar Bus Tua
Kini, ketika transportasi berkembang sangat cepat dan perjalanan antarkota dapat direncanakan hanya melalui telepon pintar, kisah Maslab menjadi pengingat bahwa pembangunan transportasi tidak terjadi secara tiba-tiba.
Ada perusahaan-perusahaan otobus lama yang terlebih dahulu membuka jalur, menghubungkan kampung dengan kota, membawa hasil bumi ke pusat perdagangan dan mengantarkan generasi muda menuju sekolah serta kehidupan yang lebih luas. Maslab adalah salah satunya.
Bagi masyarakat Asahan, Labuhanbatu dan Tanjungbalai, Maslab pernah menjadi simbol mobilitas masyarakat kelas bawah sekaligus bagian dari perjuangan hidup.
Bus itu membawa cerita tentang pendidikan, perdagangan, perantauan, mudik dan pertemuan keluarga.
Kini armadanya mungkin sudah tidak terlihat lagi di jalan raya. Terminal dan loketnya pun tidak lagi seramai masa kejayaannya.
Tetapi nama Maslab tetap hidup dalam cerita generasi yang pernah menjadi penumpangnya.
Maslab bukan sekadar bus yang pernah melintas di jalan-jalan Sumatera Utara. Ia adalah bagian dari sejarah perjalanan masyarakat Asahan dan Labuhanbatu—sebuah legenda transportasi yang pernah menghubungkan manusia, harapan dan masa depan di sepanjang jalur Tanjungbalai–Rantauprapat–Negeri Lama.
Penulis: Harunsyah Arsyad









