JAKARTA, TOPKOTA.co – Kasus tragis yang menimpa seorang anak sekolah dasar (SD) berusia 10 tahun yang diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pulpen menjadi perhatian serius pemerintah pusat.
Menteri Sosial (Mensos) RI Saifullah Yusuf meminta kejadian ini menjadi atensi bersama antara pemerintah pusat dan daerah.
Mensos yang akrab disapa Gus Ipul menyampaikan duka cita dan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa kasus ini tidak boleh dipandang sebagai kejadian biasa, melainkan harus menjadi alarm bagi semua pihak untuk memperkuat perlindungan sosial.
Peristiwa memilukan ini terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) meninggal dunia dan diduga mengakhiri hidupnya setelah keluarganya tidak mampu memenuhi permintaannya membeli perlengkapan sekolah.
Menurut informasi yang beredar, sebelum kejadian korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan alat tulis yang nilainya kurang dari Rp10.000.
Namun, karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi.
Mensos: Harus Jadi Atensi Bersama
Saifullah Yusuf menegaskan pemerintah sangat prihatin terhadap peristiwa tersebut. Ia menilai kasus ini harus menjadi perhatian semua pihak, termasuk pemerintah daerah, agar kejadian serupa tidak terulang.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat pendampingan sosial bagi keluarga rentan serta memperbaiki akurasi data masyarakat miskin agar bantuan sosial tepat sasaran.
Pemerintah, menurutnya, harus memastikan tidak ada keluarga yang luput dari jangkauan program perlindungan sosial.
Pemerintah Soroti Data Kemiskinan dan Pendampingan Sosial
Selain itu, Mensos juga menyoroti pentingnya sistem data terpadu untuk memastikan keluarga yang membutuhkan dapat menerima perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan ekonomi secara optimal.
Penguatan data dianggap krusial agar pemerintah bisa menjangkau seluruh keluarga yang membutuhkan bantuan sosial dan perlindungan negara.
DPR RI dan Pemerintah Pendidikan Ikut Soroti Kasus
Kasus ini juga mendapat perhatian dari DPR. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian menilai kejadian tersebut menjadi alarm keras bahwa masih ada anak-anak yang belum mendapatkan kebutuhan dasar pendidikan.
DPR RI mendesak agar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengusut tuntas latar belakang kejadian tersebut.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait insiden tragis tersebut untuk mengetahui penyebab pasti serta mencegah kejadian serupa.
Alarm Serius bagi Sistem Perlindungan Anak
Kasus ini memunculkan keprihatinan luas di masyarakat. Banyak pihak menilai kejadian ini menunjukkan masih adanya tantangan besar dalam pemerataan akses pendidikan dasar dan perlindungan sosial bagi keluarga miskin di Indonesia.
Pakar perlindungan anak sebelumnya juga menekankan pentingnya sistem peringatan dini di sekolah dan lingkungan sosial untuk mendeteksi kondisi psikologis anak sejak dini agar risiko bunuh diri dapat dicegah.
Harapan Agar Kasus Serupa Tak Terulang
Pemerintah berharap penguatan perlindungan sosial, pendampingan keluarga rentan, serta perbaikan sistem data nasional dapat mencegah kejadian serupa di masa depan.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan anak harus menjadi prioritas bersama antara negara, pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat. (Ayu)









