SERGAI, TOPKOTA.co – Penggunaan alat material khusus (Almatsus) dalam pengamanan unjuk rasa menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas).
Dengan dukungan senjata non-mematikan seperti gas air mata dan megaphone, serta peralatan pendukung seperti kamera perekam dan APAR portable, Almatsus berperan memastikan keamanan personel Dalmas sekaligus tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia saat menghadapi aksi massa.
Peralatan tersebut dirancang secara ergonomis dan adaptif terhadap dinamika unjuk rasa modern, sehingga menjadi simbol profesionalisme Polri dalam melaksanakan tugas pengamanan. Namun demikian, dalam praktiknya masih ditemukan sejumlah kendala operasional.
Beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain keterbatasan jumlah peralatan, kondisi peralatan yang tidak optimal atau rusak, ketidaksesuaian dengan kebutuhan lapangan dan eskalasi situasi, kurangnya pemeliharaan dan perawatan rutin (harwat), minimnya pelatihan personel dalam penggunaan Almatsus, hingga ketidakadaptifan terhadap perubahan karakteristik unjuk rasa. Selain itu, terdapat pula potensi pelanggaran HAM apabila penggunaan peralatan tidak sesuai dengan standar operasional prosedur.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Polri (Puslitbang Polri) melaksanakan penelitian bertajuk “Optimalisasi Almatsus Dalmas Guna Penanganan Unjuk Rasa Berpotensi Konflik Dalam Rangka Mewujudkan Harkamtibmas”. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi sekaligus mengoptimalkan penggunaan Almatsus Dalmas, baik di tingkat Mabes maupun kewilayahan, agar penanganan unjuk rasa dapat dilakukan secara efektif, humanis, dan aman.

Selain itu, Puslitbang Polri juga menerima tugas dari Wakapolri untuk melaksanakan penelitian berjudul “Peran Polri Dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan Guna Mewujudkan Swasembada Pangan”. Program ketahanan pangan Polri merupakan inisiatif strategis dalam mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, khususnya dalam memperkuat produksi dan distribusi jagung sebagai komoditas pangan utama.
Melalui program tersebut, Polri menjalankan empat kegiatan utama, yakni pemanfaatan pekarangan bergizi melalui budidaya ikan dan peternakan ayam, optimalisasi lahan produktif untuk tanaman jagung, pengawasan distribusi pangan, serta rekrutmen dan penempatan Bintara Kompetensi Khusus (Bakomsus) Pertanian.
Peran Polri dalam konteks ini tidak lagi sebatas pengamanan, melainkan juga sebagai fasilitator dan koordinator lintas sektor, pendamping petani, serta penjamin stabilitas wilayah produksi dan distribusi jagung guna mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional.
Penelitian tersebut dilaksanakan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Tim peneliti dipimpin oleh KBP Adi Savart Panataran Simanjuntak, S.H., S.I.K., bersama anggota dari Puslitbang Polri serta didampingi narasumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner secara daring kepada responden internal Polri yang menggunakan Almatsus Dalmas, serta wawancara mendalam (in-depth interview) kepada informan yang pernah mengoperasikan peralatan tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi strategis bagi pimpinan Polri dalam meningkatkan profesionalisme dan efektivitas tugas, baik dalam pengamanan unjuk rasa maupun mendukung ketahanan pangan nasional. (End)









